Semangati Generasi Muda Gali Cagar Budaya Oleh: Frislidia

Mon,03 December 2012 | 21:47
Pengaruh teknologi internet atau multi media agaknya telah memberikan kebebasan bagi generasi muda mengutak-atik informasi yang mereka sukai tanpa tahu untuk memilih yang terbaik.
Naifnya, kebebasan yang tanpa batas itu pun makin terbuka lebar ketika pengawasan orang tua pun mulai mengendor sementara nilai-nilai luhur agama pun makin berkurang mereka peroleh.
Sebelumnya pun Wakil Wali Kota Pekanbaru, Ayat Cahyadi pernah mengatakan, Kendati Indonesia berusia 67 tahun namun dampak globalisasi telah menggerus bangsa ini hingga nyaris kehilangan orientasi nilai-nilai luhur.
Hal ini ditandai dengan bangsa ini sudah jauh dari empat pilar yakni Pancasila, UUD 1945 NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Dampaknya kehidupan berbangsa menjadi hambar dan gersang dalam kemiskinan budaya dan kekeringan spiritual (agama).
Menurut Ayat Cahyadi, diperlukan peningkatan kesadaran pada masyarakat tanpa batas usia terhadap nilai-nilai tersebut guna memperkuat jati diri bangsa.
"Nilai-nilai luhur budaya itu adalah kejujuran amanah, keteladanan, sportivitas, disiplin dan etos kerja serta gotong royong, dan sikap toleransi, malu dan tanggungjawab yang harus dipupuk terus," katanya.
Selain itu Rosmani Said, Koordinator PNPM Mandiri Perkotaan Pekanbaru, mengakui kini jarang sekali ditemukan pengajian (baca Al Quran, red) pada malam hari dilakukan oleh generasi muda di masjid-masjid dan mushalla.
Orang tua, kini bahkan tidak lagi bisa mendengarkan sajak dan pantun Melayu, bahkan kaum tua daerah itu merasa miris karena tunjuk ajar atau pengajaran melalui pituah-pituah mereka tidak lagi di dengar generasi muda.
"Generasi muda daerah itu lebih banyak memilih melihat internet dan meluangkan waktu mereka mengutak-atik situs-situs bertekhnologi modern itu ketimbang mendengarkan pituah dan petitih orang tua mereka," katanya.
Dampaknya, tidak diragukan lagi, budaya silatrrahmi pun mulai luntur, padahal simbol-simbol budaya yang berasal dari ajaran Islam itu sangat penting sebagai bekal bagi mereka kelak menjadi generasi penerus bangsa yang mampu mempertahankan kejayaan NKRI ini.
Tak ada pilihan lain, katanya dengan sedikit optimistis, nilai-nilai pusaka dan kebudayaan Melayupun harus dibangkitkan kembali untuk menyemangati generasi muda dalam mencintai tanah airnya.
"Aturan bersama memang juga sangat diperlukan bahwa nilai-nilai Pusaka Melayu harus diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari agar tidak punah," katanya.
Gali Potensi BCB
Rosmani Said mengatakan bahwa Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan Pekanbaru, Riau kini dipercaya oleh Pemerintah Kota itu untuk menggiatkan penggalian terhadap empat program yang memiliki potensi Benda Cagar Budaya (BCB).
"Selama ini titik nol Pekanbaru disebut-sebut ada di air mancur yakni pesawat tugu tani, Yapin, akan tetapi titik nol yang sebenarnya berada di Kelurahan Kampung Dalam berbatasan dengan Kelurahan Kampung Bandar," kata Rosmani Said.
Program tersebut bagian dari hadiah Pemerintah yang memberikan kepercayaan pada PNPM Mandiri Perkotaan Pekanbaru untuk melaksanakan empat program penataan bangunan di lingkungan permukiman masyarakat berbasis komunitas.
Ia menyebutkan, untuk mendukung program itu maka perlu dilakukan rencana penataan lingkungan permukimam melalui perencanaan makro di kawasan Cagar Budaya Kelurahan Kampung Bandar --yang berjarak sekitar 1 km dari Pusat Kota pekanbaru-- itu.
Penggalian BCB --selain diharapkan menggugah generasi muda mencintai budayanya-- ini dilakukan sekaligus guna meningkatkan daya tarik Kota Pekanbaru yang miliki potensi budaya yang cukup besar dengan tujuan akhirnya adalah terwujudnya Pekanbaru sebagai Kota Metropolitan dan madani agama dan Pusaka Melayu.
"Kebijakan ini sudah mulai dilakukan tahun 2012 dan rencana akan dilanjutkan secara bertahap hingga sampai tahun 2017," katanya.
Kegiatan lain yang masuk dalam empat program penggalian BCB itu adalah rencana tindak penataan lingkungan permukiman mikro, dengan prioritas BCB yakni penggalian sejarah di kawasan wisata Dewi Kambalan (yakni seorang tokoh perempuan Pendiri Kota Pekanbaru ini).
Berikutnya pengembangan pusat perdagangan barang di bawah Siak Tiga yang di sana terdapat jalan perdagangan, yang memerlukan penataan wisata belanja pada siang hari yang dimulai dari pasar bawah dari JL A Yani hingga ke Jalan Riau.
"Pada malam harinya, di kawasan yang sama akan digelar wisata malam kuliner yang mudah-mudahan akan segera terwujud dalam dua tahun ini," katanya.
Karena itu, katanya berbagai persiapan untuk mewujudkan rencana tersebut yang perlu dilakukan adalah membuat Rencana Penataan Lingkungan Permukimam (RPLP). Selain itu disiapkan lagi pemetaan swadaya, dengan membuka lomba sketsa tentang penataan khas Melayu dengan pesertanya berasal dari mahasiswa, masyarakat atau pelajar SMK.
Pemenangnya akan diambil mulai dari rangking pertama hingga tiga yang terbaik. Persiapan lainnya yang digelar yakni lomba untuk melestarikan budaya Melayu melalui lomba nyanyi dan cipta lagu akan dilaksanakan di Kampung Bandar, di bawah Jembatan Siak Tiga dalam Desember 2012.
"Pagelaran kesenian dalam memeriahkan penyambutan tahun baru yakni Budaya Melayu dan kuliner Melayu," katanya.
Kegiatan ini iharapkan generasi muda daerah ini bisa lebih mengenal dan memahami pusaka Melayu dalam membentengi mereka, dan mereka bisa memilah pengaruh negatif internet. T. F011/B/Z003 (T.F011/B/Z003/Z003) 03-12-2012 21:57:10 NNNN
Berita Terkait